PEMBAHASAN
1. Kemiskinan Di Indonesia
Kemiskinan menurut Wikipedia bahasa Indonesia adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Masalah kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan global. di Indonesia masalah kemiskinan seperti tak kunjung usai. masih banyak kita dapati para pengemis dan gelandangan berkeliaran tidak hanya di pedesaan bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta pun pemandangan seperti ini menjadi tontonan setiap hari.
Kini di Indonesia jerat kemiskinan semakin parah. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen (www.bps.go.id). Kemiskinan bukan semata-mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural.
Hari Susanto (2006) mengatakan umumnya instrumen yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat tersebut miskin atau tidak bisa dipantau dengan memakai ukuran peningkatan pendapatan atau tingkat konsumsi seseorang atau sekelompok orang. Padahal hakikat kemiskinan dapat dilihat dari berbagai faktor. Apakah itu sosial-budaya, ekonomi, politik, maupun hukum.
Menurut Koerniatmanto Soetoprawiryo menyebut dalam Bahasa Latin ada istilah esse (to be) atau (martabat manusia) dan habere (to have) atau (harta atau kepemilikan). Oleh sebagian besar orang persoalan kemiskinan lebih dipahami dalam konteks habere. Orang miskin adalah orang yang tidak menguasai dan memiliki sesuatu. Urusan kemiskinan urusan bersifat ekonomis semata.
Bila kita cermati kondisi masyarakat dewasa ini. Banyak dari mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Bahkan, hanya untuk mempertahankan hak-hak dasarnya serta bertahan hidup saja tidak mampu. Apalagi mengembangkan hidup yang terhormat dan bermartabat.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan menambah panjang deret persoalan yang membuat negeri ini semakin sulit keluar dari jeratan kemiskinan. Hal ini dapat kita buktikan dari tingginya tingkat putus sekolah dan buta huruf. Belum lagi tingkat pengangguran yang meningkat “signifikan.” Jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 di Indonesia sebanyak 12,7 juta orang. Ditambah lagi kasus gizi buruk yang tinggi, kelaparan/busung lapar, dan terakhir, masyarakat yang makan “Nasi Aking.”
2. Dampak Kemiskinan
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks, diantaranya :
1. Pengangguran.
Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
2. Kekerasan.
Kekerasan-kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu. belakangan banyak oknum-oknum yang menggunakan modus penipuan melalui sms.
3. Pendidikan
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Karena untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan.
Kondisi seperti ini membuat masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekola berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.
4. Kesehatan
Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
3. Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Indonesia
Seperti telah disinggung di atas bahwa kemiskinan merupakan suatu masalah yang kompleks dan multidimensional yang tak terpisahkan dari pembangunan mekanisme ekonomi, sosial dan politik yang berlaku. Oleh karena itu setiap upaya pengentasan kemiskinan secara tuntas menuntut peninjauan sampai keakar masalah. Jadi, memang tak ada jalan pintas untuk mengentaskan masalah kemiskinan ini. Penanggulanganya tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.
Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK). Disamping turut menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (atau Millennium Development Goals) untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya pemerintah telah menyusun tujuan-tujuan pokok dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun 2009, termasuk target ambisius untuk mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun 2002 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009.
Dalam pelaksanaan program pengentasan nasib orang miskin, keberhasilannya bergantung pada langkah awal dari formulasi kebijakan, yaitu mengidentifikasikan siapa sebenarnya “si miskin” tersebut dan dimana ia berada. Kedua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat profil dari si miskin.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak rumah tangga yang berada disekitar garis kemiskinan nasional, yang setara dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong miskin dari segi pendapatan dapat dikategorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.
Tiga cara untuk membantu mengangkat diri dari kemiskinan adalah melalui pertumbuhan ekonomi, layanan masyarakat dan pengeluaran pemerintah. Masing-masing cara tersebut menangani minimal satu dari tiga ciri utama kemiskinan di Indonesia, yaitu: kerentanan, sifat multi-dimensi dan keragaman antar daerah (lihat Tabel 1). Dengan kata lain, strategi pengentasan kemiskinan yang efektif bagi Indonesia terdiri dari tiga komponen:
• Membuat Pertumbuhan Ekonomi Bermanfaat bagi Rakyat Miskin.
Pertumbuhan ekonomi telah dan akan tetap menjadi landasan bagi pengentasan kemiskinan. Pertama, langkah membuat pertumbuhan bermanfaat bagi rakyat miskin merupakan kunci bagi upaya untuk mengkaitkan masyarakat miskin dengan proses pertumbuhan baik dalam konteks pedesaan-perkotaan ataupun dalam berbagai pengelompokan berdasarkan daerah dan pulau. Hal ini sangat mendasar dalam menangani aspek perbedaan antar daerah. Kedua, dalam menangani ciri kerentanan kemiskinan yang berkaitan dengan padatnya konsentrasi distribusi pendapatan di Indonesia, apapun yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat akan dapat dengan cepat mengurangi angka kemiskinan serta kerentanan kemiskinan.
Membuat pertumbuhan bermanfaat bagi masyarakat miskin memerlukan langkah untuk membawa mereka pada jalan yang efektif untuk keluar dari kemiskinan. Hal ini berarti memanfaatkan transformasi struktural yang sedang berlangsung di Indonesia yang ditandai oleh dua fenomena. Pertama, sedang terjadi pergeseran dari kegiatan yang berbasis pedesaan ke kegiatan yang berbasis perkotaan. Kedua, telah terjadi pergeseran yang menonjol dari kegiatan bertani (farm) ke kegiatan non-tani (non-farm). Transformasi ini menunjukan adanya dua jalan penting yang telah diambil oleh rumah tangga untuk keluar dari kemiskinan di Indonesia.
1. Peningkatan produktivitas pertanian.
2. Peningkatan produktivitas non-pertanian, baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan yang “dikotakan” dengan cepat.
• Membuat Layanan Sosial Bermanfaat bagi Rakyat Miskin.
Penyediaan layanan sosial bagi rakyat miskin baik oleh sektor pemerintah ataupun sektor swasta-adalah mutlak dalam penanganan kemiskinan di Indonesia. Pertama, hal itu merupakan kunci dalam menyikapi dimensi non-pendapatan kemiskinan di Indonesia. Indikator pembangunan manusia yang kurang baik, misalnya Angka Kematian Ibu yang tinggi, harus diatasi dengan memperbaiki kualitas layanan yang tersedia untuk masyarakat miskin. Hal ini lebih dari sekedar persoalan yang bekaitan dengan pengeluaran pemerintah, karena berkaitan dengan perbaikan sistem pertanggungjawaban, mekanisme penyediaan layanan, dan bahkan proses kepemerintahan. Kedua, ciri keragaman antar daerah kebanyakan dicerminkan oleh perbedaan dalam akses terhadap layanan, yang pada akhirnya mengakibatkan adanya perbedaan dalam pencapaian indikator pembangunan manusia di berbagai daerah. Dengan demikian, membuat layanan masyarakat bermanfaat bagi rakyat miskin merupakan kunci dalam menangani masalah kemiskinan dalam konteks keragaman antar daerah.
Membuat layanan bermanfaat bagi masyarakat miskin memerlukan perbaikan sistem pertanggungjawaban kelembagaan dan memberikan insentif bagi perbaikan indikator pembangunan manusia. Saat ini, penyediaan layanan yang kurang baik merupakan inti persoalan rendahnya indikator pembangunan manusia, atau kemiskinan dalam dimensi non-pendapatan, seperti buruknya pelayanan kesehatan dan pendidikan. Bidang lain yang memerlukan perhatian adalah perbaikan akses bagi masyarakat miskin terhadap pelayanan untuk menekan kesenjangan antar daerah dalam hal indikator pembangunan manusia. Di bidang pendidikan, salah satu masalah kunci adalah tingginya angka putus sekolah di masyarakat miskin pada saat mereka melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP. Dalam menyikapi aspek multidimensional kemiskinan, upaya-upaya hendaknya diarahkan pada perbaikan penyediaan layanan, khususnya perbaikan kualitas layanan itu sendiri. Upaya-upaya tersebut dapat di wujudkan dalam bentuk :
1. Meningkatkan tingkat partisipasi sekolah menengah pertama
2. Layanan kesehatan dasar yang lebih baik untuk masyarakat miskin maupun untuk penyedia layanan.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat miskin dalam mengakses air bersih dan sanitasi.
4. Perjelas tanggungjawab fungsional dalam penyediaan layanan.
5. Perbaiki penempatan dan manajemen PNS.
6. Berikan insentif lebih besar untuk para penyedia layanan.
• Membuat Pengeluaran Pemerintah Bermanfaat bagi Rakyat Miskin.
Di samping pertumbuhan ekonomi dan layanan sosial, dengan menentukan sasaran pengeluaran untuk rakyat miskin, pemerintah dapat membantu mereka dalam menghadapi kemiskinan (baik dari segi pendapatan maupun non-pendapatan). Pertama, pengeluaran pemerintah dapat digunakan untuk membantu mereka yang rentan terhadap kemiskinan dari segi pendapatan melalui suatu sistem perlindungan sosial modern yang meningkatkan kemampuan mereka sendiri untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. Kedua, pengeluaran pemerintah dapat digunakan untuk memperbaiki indikator-indikator pembangunan manusia, sehingga dapat mengatasi kemiskinan dari aspek non-pendapatan. Membuat pengeluaran bermanfaat bagi masyarakat miskin sangat menentukan saat ini, terutama mengingat adanya peluang dari sisi fiscal yang ada di Indonesia saat kini.
Pengurangan subsidi BBM merupakan langkah besar ke arah pengeluaran publik pemerintah yang lebih berpihak pada masyarakat miskin. Sampai saat ini, pengeluaran pemerintah tidak selalu bisa secara efektif mengatasi kendala yang dihadapi masyarakat miskin untuk keluar dari kemiskinan. Ketika pemerintah memperoleh kelonggaran fiskal menyusul realokasi subsidi BBM yang regresif, penting untuk memastikan bahwa pengeluaran tersebut benar-benar berdampak positif bagi masyarakat miskin. Sekarang pemerintah mempunyai kesempatan untuk menangani masalah kerentanan tinggi masyarakat miskin di Indonesia dengan cara mengarahkan belanja pemerintah ke dalam sistem jaminan sosial yang mampu mengurangi kerentanan tersebut. Salah satu komponen penting dari realokasi pengeluaran pemerintah adalah memusatkan perhatian pada upaya peningkatan penghasilan masyarakat miskin. Pengeluaran pemerintah yang bisa berdampak langsung pada peningkatan penghasilan juga akan berdampak positif pada penanganan kemiskinan. Salah satu prioritas yang bisa dikedepankan-dan telah dimulai oleh pemerintah-ialah memperluas cakupan pembangunan berbasis masyarakat (community driven development atau CDD).
http://www.gunadarma.ac.id
Kamis, 15 Maret 2012
Rabu, 14 Desember 2011
Indonesia tujuan investasi terbaik saat ini
Indonesia tujuan investasi terbaik saat ini
Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan mengatakan, saat ini Indonesia adalah negara tujuan investasi terbaik karena memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dan mata uang yang relatif stabil.
"Saya ini suka berinvestasi di saham, saya ini investor. Jadi, kalau saat ini saya ingin investasi, saya akan pilih investasi di Indonesia, karena pertumbuhan di sini tinggi, mata uangnya juga relatif stabil dan yield dari obligasi pemerintah cukup tinggi," kata Fauzi di Jakarta, Selasa.
Ditambahkannya, situasi perekonomian global di Eropa dan Amerika Serikat (AS), tidak hanya memberikan dampak negatif terhadap Indonesia tetapi ada pula dampak positif dari krisis di kedua kawasan tersebut.
Oleh karena itu, Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa dengan mengalirkan arus dana masuk kepada sektor riil.
Ia menjelaskan, apa yang terjadi di Eropa dan AS mengakibatkan suku bunga akan tetap rendah dalam satu atau dua tahun mendatang, di kedua kawasan tersebut. Artinya, para investor tentu akan berpikir ulang untuk berinvestasi di kawasan Eropa maupun AS.
"Akibatnya, ada dana yang menganggur tidak terserap, dana-dana itu akan masuk ke negara seperti Indonesia," katanya.
Ia memaparkan, potensi Indonesia sebagai negara tujuan investasi saat ini cukup besar akibat dari adanya perlambatan ekonomi yang dialami negara-negara maju. Perlambatan ekonomi ini menyebabkan banyak dana di negara-negara maju yang tidak terserap di sektor riil mereka.
"Dana yang tidak terserap di sektor riil mereka itu akan masuk kepada negara yang memiliki suku bunga tinggi, mata uang stabil dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari Eropa dan AS," ujarnya.
Menurutnya, ada dua negara yang memenuhi syarat tersebut yaitu Indonesia dan Brasil. Masalahnya, Brasil tidak suka "hot money", dan mereka menerapkan pajak enam persen bagi investor yang mau membeli obligasi mereka.
Dengan demikian, dana-dana tersebut bisa masuk ke Indonesia karena potensi Indonesia untuk meningkatkan investasi dan angka pertumbuhan ekonomi juga sangat besar.
Namun, ia meminta agar arus dana yang masuk dari negara-negara maju tersebut dapat pula disalurkan ke sektor riil di Indonesia. Arus dana yang masuk itu jangan hanya terserap di instrumen obligasi karena dapat menimbulkan risiko baru.
"Penyerapan arus dana yang masuk itu jangan hanya di instrumen SBI, SUN dan saham karena bisa menimbulkan risiko baru, karenanya harus juga terserap di sektor riil," katanya.
Suku Bunga Indonesia 2012 Stabil
Suku Bunga Indonesia 2012 Stabil
Tim Riset Bank DBS memperkirakan tingkat suku bunga di Indonesia akan stabil selama 2012 antara lain karena tren tingkat inflasi yang rendah.
Siaran pers Bank DBS Indonesia yang diterima di Jakarta, Rabu [14/12], menyebutkan, inflasi non-inti pada November 2011 mencapai 4,15 persen dibanding periode yang sama 2010 dan dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan akan menunjukkan tren penurunan.
Pada 2012, dengan memperhitungkan adanya kenaikan tarif listrik sebesar 10 persen, tingkat inflasi seharusnya masih terkendali mengingat lambatnya pertumbuhan ekonomi global sehingga inflasi akan lebih dipengaruhi oleh harga komoditas.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap harga masih tergolong rendah sehingga bank sentral memiliki ruang yang lebih besar untuk memangkas suku bunga. Apalagi, Indonesia masih memiliki kebijakan suku bunga positif sekitar dua persen.
Kekhawatiran akan tingkat pertumbuhan ekonomi seharusnya akan lebih didominasi oleh dampak krisis utang Eropa yang berkepanjangan. Sebagai konsekuensinya, ekspor diprediksi akan menurun sehingga dibutuhkan upaya yang kuat untuk memastikan pertumbuhan kredit tetap solid (di atas 20 persen) di 2012 untuk membantu mendongkrak permintaan domestik.
Terkait dengan pertumbuhan ekonomi ini, DBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 akan mencapai sekitar 6,1 persen.
Menurut Tim Riset Bank DBS, suku bunga yang lebih rendah akan memberikan keuntungan dalam jangka panjang, yaitu menekan spekulasi arus modal.
Tingkat suku bunga yang relatif rendah dalam beberapa waktu ke depan akan meminimalkan selisih imbal hasil di luar negeri dengan dalam negeri sehingga menekan aksi spekulasi dan mendorong moddal yang ditempatkan lebih stabil.
Selain itu, pertumbuhan kredit dengan denominasi mata uang asing dalam sembilan bulan terakhir 2011 (24,3 persen) telah melampaui kredit berdenominasi rupiah (16,5 persen).
Dengan rasio penyaluran kredit (Loan to Deposit Ratio/LDR) mata uang asing yang berada di level 94 persen, pertumbuhan kredit ke depan akan terlimitasi tanpa adanya ekspansi ke pembiayaan korporasi. Sebagai perbandingan, LDR rupiah relatif ada di level 80 persen.
Lemahnya sentimen terhadap situasi ekonomi telah mengakibatkan arus keluar portofolio dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran akan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut juga semakin memperburuk situasi. Kekhawatiran tersebut adalah wajar, namun Tim Riset DBS meyakini bahwa cadangan devisa negara sebesar 114 miliar dolar AS (per akhir Oktober 2011) cukup kuat untuk dapat meredam arus keluar yang mungkin terjadi.
Selain itu, ada pula kekhawatiran bahwa melemahnya rupiah akan memicu inflasi. Dengan latar belakang demikian, kemungkinan penurunan tingkat suku bunga akan lebih terbatas.
Mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, DBS memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin di kuartal pertama 2012, dan kemudian akan terus stabil di sepanjang tahun 2012.
Obligasi Negara
Tim Riset DBS memperkirakan nilai surat utang negara (obligasi negara) berdenominasi rupiah tetap positif meski Bank Indonesiatidak menurunkan kebijakan suku bunga pada awal Desember 2011.
Walaupun telah terjadi tekanan jual dari entitas asing pada November 2011, namun situasi masih tetap terkendali karena BI dan bank-bank komersial meningkatkan kepemilikan obligasi negara sehingga membatasi tekanan yang lebih besar terhadap suku bunga.
DBS menilai intervensi BI di pasar obligasi untuk menahan larinya investasi ke luar negeri (capital outflow) sejauh ini terbukti efektif dalam mempertahankan kepercayaan inivestor dan mengurangi gejolak pasar.
Menjaga suku bunga di level rendah tidak menjadi masalah selama bank sentral mengijinkan terjadinya penyesuaian besar pada rupiah.
Suku bunga Indonesia yang jauh di bawah level pra-krisis mencerminkan empat hal, yaitu rendahnya suku bunga global, melimpahnya likuiditas domestik, strategi yang fokus pada pertumbuhan permintaan domestik serta dalam jangka pendek pergeseran risiko dari inflasi ke pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu suku bunga yang lebih rendah tidak hanya merefleksikan respon sementara terhadap kondisi pasar dan situasi perekonomian yang sulit.
Jika inflasi tetap bertahan di target kisaran BI yaitu sebesar 3,0-5,0 persen di 2012, kemungkinan besar tingkat suku bunga bank di pasar akan tetap rendah selama 2012.
Pertahanan suku bunga di tingkat yang lebih rendah sangat penting untuk strategi pertumbuhan permintaan domestik dan pengembangan di pasar modal. Hal ini mungkin dicapai jika tingkat suku bunga Amerika tetap rendah dan arus modal masuk (capital inflows) tetap kuat.
PT Bank DBS Indonesia berdiri sejak 1997. Pada 2004 hanya memiliki tiga kantor cabang dan saat ini memiliki 40 kantor cabang dan kantor cabang pembantu di 11 kota utama di Indonesia. DBS juga membuka “Rumah DBS” untuk memperluas jangkauan pasar di Indonesia.
krisis global 2012
Krisis global di 2012 akan sangat memberikan dampak berupa tekanan terhadap pertumbuhan industri manufaktur.
"Salah satu sektor yang akan mengalami tekanan akibat krisi global di 2012 adalah sektor manufaktur. Di mana demand dari Eropa, AS dan Jepang akan turun," kata Lead Economist bagi Bank Dunia di Indonesia, Shubham Chaudhuri di Jakarta, Rabu (14/12).
Lebih lanjut Subham mengatakan, ke depan perlu langkah-langkah untuk meningkatkan akses terhadap pendanaan, infrastruktur dan peraturan tenaga kerja. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan sektor manufaktur dan sektor-sektor jasa terkait.
Di tempat yang sama Senior Economist Bank Dunia, Sjamsu Rahardja menambahkan, tahun depan industri manufakur masih bisa tumbuh 7%.
Menurutnya, penurunan pertumbhan ekonomi 1% dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 0,5-0,8%. "Kita harus menjaga recovery sektor manufaktur dengan meningkatkan ketahanan dan daya saingnya. Caranya dengan mengadress kendala-kendala yang akan dihadapi," jelasnya.
"Salah satu sektor yang akan mengalami tekanan akibat krisi global di 2012 adalah sektor manufaktur. Di mana demand dari Eropa, AS dan Jepang akan turun," kata Lead Economist bagi Bank Dunia di Indonesia, Shubham Chaudhuri di Jakarta, Rabu (14/12).
Lebih lanjut Subham mengatakan, ke depan perlu langkah-langkah untuk meningkatkan akses terhadap pendanaan, infrastruktur dan peraturan tenaga kerja. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan sektor manufaktur dan sektor-sektor jasa terkait.
Di tempat yang sama Senior Economist Bank Dunia, Sjamsu Rahardja menambahkan, tahun depan industri manufakur masih bisa tumbuh 7%.
Menurutnya, penurunan pertumbhan ekonomi 1% dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 0,5-0,8%. "Kita harus menjaga recovery sektor manufaktur dengan meningkatkan ketahanan dan daya saingnya. Caranya dengan mengadress kendala-kendala yang akan dihadapi," jelasnya.
Krisis Eropa Diharapkan Tidak Berimbas ke Indonesia
Krisis Eropa Diharapkan Tidak Berimbas ke Indonesia
Krisis ekonomi yang mengobrak-abrik negara Eropa dan Amerika Serikat (AS) diharapkan tidak mengimbas ke Indonesia.”Meski Eropa hanya menyumbang 12,5 persen dan AS 13 persen terhadap product domestik bruto (PDB), saya harap krisis global tidak semakin memburuk,” ungkap Menteri Perindustrian (Menperin), MS Hidayat, usai rakor mengenai proyek infrastruktur di kantor Menko Perekonomian, Selasa (13/12).
Karena tahun depan, pihaknya menargetkan pertumbuhan industri 7,1 persen. Untuk mencapai pertumbuhan industri 7,1 persen, ia mengaku sangat mengandalkan industri manufaktur. Misalnya industri baja, makanan dan minuman serta otomotif.
”Kalau tidak ada gangguan dari krisis, saya kira (pertumbuhan industri) tahun depan bisa tercapai 7 persen hingga 7,1 persen,” ucapnya.
Sebaliknya jika ada gangguan negatif dari krisis, ia tidak menutup mata kemungkinan proyeksi pertumbuhan industri sebesar itu akan sedikit terkoreksi. Sekitar 6,5 persen hingga 6,6 persen. ”Itupun sangat tergantung apakah kita bisa tanggulangi dampak krisis tersebut,” ujarnya.
Sebab dengan ada krisis global ini, lanjutnya, ekspor Indonesia barangkali berkurang. Untuk mengantisipasi hal itu perlu dilakukan diversifikasi ekspor. ”Itu kerjaan kita,” kata Hidayat.
Krisis Global Tak Ganggu Perbankan Syariah
BI: Krisis Global Tak Ganggu Perbankan Syariah
Bank Indonesia yakin krisis global akibat krisis utang Eropa dan Amerika Serikat tidak akan berdampak signifikan pada kinerja industri perbankan syariah di Tanah Air. Itu karena fokus kegiatan perbankan syariah pada pembiayaan usaha dalam negeri dan tidak banyak terkait dengan perekonomian internasional.
"Industri perbankan syariah tidak terganggu oleh kondisi perekonomian global," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah dalam seminar Outlook Perbankan Syariah 2012, Rabu, 14 Desember 2012.
Menurut dia, pada 2012 nanti peluang perbankan syariah membiayai sektor ekonomi produktif terbuka lebar, mulai dari proyek skala menengah hingga besar. Kebijakan yang akan dibuat pun akan diarahkan pada hal tersebut.
Bank Indonesia mengharapkan kualitas pelayanan bank-bank syariah saat ini dapat setara dengan kualitas bank induknya.
Menurut Halim, hal tersebut dapat dicapai dengan memberdayakan bank induk dalam mengembangkan infrastruktur perbankan, seperti teknologi informasi dan peningkatan kualitas manajemen risiko.
"Industri perbankan syariah tidak terganggu oleh kondisi perekonomian global," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah dalam seminar Outlook Perbankan Syariah 2012, Rabu, 14 Desember 2012.
Menurut dia, pada 2012 nanti peluang perbankan syariah membiayai sektor ekonomi produktif terbuka lebar, mulai dari proyek skala menengah hingga besar. Kebijakan yang akan dibuat pun akan diarahkan pada hal tersebut.
Bank Indonesia mengharapkan kualitas pelayanan bank-bank syariah saat ini dapat setara dengan kualitas bank induknya.
Menurut Halim, hal tersebut dapat dicapai dengan memberdayakan bank induk dalam mengembangkan infrastruktur perbankan, seperti teknologi informasi dan peningkatan kualitas manajemen risiko.
Faktor fundamental ekonomi Indonesia yang diperkirakan masih positif diharapkan dapat memberikan sentimen positif ke bursa saham pada 2012.
Faktor fundamental ekonomi Indonesia yang diperkirakan masih positif diharapkan dapat memberikan sentimen positif ke bursa saham pada 2012.
"Penurunan suku bunga acuan, likuiditas perbankan masih banyak dan Indonesia dilihat masih jadi pilihan investor,apalagi kalau Indonesia mendapatkan investment grade pada kuartal kedua atau ketiga tahun depan dapat memberikan sentimen positif ke bursa saham," ujar Direktur Utama PT Buana Capital Benny Setiabrata, saat ditemui wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/12).
Hal senada dikatakan Ekonom PT Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih. Lana menuturkan, makro ekonomi masih baik pada tahun depan di tengah krisis Eropa. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar 6,5% pada 2012 didukung konsumsi domestik dan infrastruktur dapat direalisasikan sehingga itu dapat memberi sentimen positif untuk makro ekonomi Indonesia termasuk bursa saham."Kekuatan ekonomi domestik ini diharapkan jadi pendorong saham sehingga potensi pasar modal Indonesia masih bagus," tambah Lana.
Lana mengaku, memang akan ada momentum perlambatan pada kuartal pertama 2012. Investor masih akan mengambil posisi wait and see untuk melihat perkembangan penyelesaian krisis utang Eropa dalam jangka pendek. Tetapi kondisi bursa saham Indonesia masih akan stabil ke depan. Lana memprediksikan, IHSG akan berada di level 4.275 pada 2012. "Kemungkinan Asia akan mendapatkan limpahan dana asing,apalagi mengingat lembaga rating seperti S&P dan Fitch Rating akan melakukan down grade terhadap Amerika Serikat dan Eropa," ujar Lana.
Kepala Riset PT Henan Putihrai Securities Felix Sindhunata menuturkan, emerging market masih tetap diminati dana asing di tengah ekonomi Eropa yang memasuki fase resesi di semester I tahun depan. Selain itu, penurunan BI-Rate pada 2012 cenderung terbatas, tekanan inflasi diperkirakan akan semakin meningkat terutama dipicu dari kenaikan harga komoditas. Penurunan BI-Rate terbatas tersebut akan membuat pergerakan Rupiah sangat tergantung pada sentimen market dan pergerakan dolar Amerika Serikat. "Dengan skenario pertumbuhan, IHSG untuk 2012 kami perkirakan akan bergerak di kisaran 4.230-4.550 merefleksikan mean dan median PE historis di 16,4 kali dan 17,7 kali," ujar Felix.
Untuk sektor saham yang menjadi pilihan pada 2012, dalam riset PT Henan Putihrai Securities, sektor saham pertambangan, perbankan, otomotif, consumer, dan perkebunan masih menarik pada 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)