Rabu, 14 Desember 2011

Indonesia tujuan investasi terbaik saat ini


Indonesia tujuan investasi terbaik saat ini

Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan mengatakan, saat ini Indonesia adalah negara tujuan investasi terbaik karena memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi dan mata uang yang relatif stabil.

"Saya ini suka berinvestasi di saham, saya ini investor. Jadi, kalau saat ini saya ingin investasi, saya akan pilih investasi di Indonesia, karena pertumbuhan di sini tinggi, mata uangnya juga relatif stabil dan yield dari obligasi pemerintah cukup tinggi," kata Fauzi di Jakarta, Selasa.

Ditambahkannya, situasi perekonomian global di Eropa dan Amerika Serikat (AS), tidak hanya memberikan dampak negatif terhadap Indonesia tetapi ada pula dampak positif dari krisis di kedua kawasan tersebut.

Oleh karena itu, Indonesia harus mampu memanfaatkan momentum krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa dengan mengalirkan arus dana masuk kepada sektor riil.

Ia menjelaskan, apa yang terjadi di Eropa dan AS mengakibatkan suku bunga akan tetap rendah dalam satu atau dua tahun mendatang, di kedua kawasan tersebut. Artinya, para investor tentu akan berpikir ulang untuk berinvestasi di kawasan Eropa maupun AS.

"Akibatnya, ada dana yang menganggur tidak terserap, dana-dana itu akan masuk ke negara seperti Indonesia," katanya.

Ia memaparkan, potensi Indonesia sebagai negara tujuan investasi saat ini cukup besar akibat dari adanya perlambatan ekonomi yang dialami negara-negara maju. Perlambatan ekonomi ini menyebabkan banyak dana di negara-negara maju yang tidak terserap di sektor riil mereka.

"Dana yang tidak terserap di sektor riil mereka itu akan masuk kepada negara yang memiliki suku bunga tinggi, mata uang stabil dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari Eropa dan AS," ujarnya.

Menurutnya, ada dua negara yang memenuhi syarat tersebut yaitu Indonesia dan Brasil. Masalahnya, Brasil tidak suka "hot money", dan mereka menerapkan pajak enam persen bagi investor yang mau membeli obligasi mereka.

Dengan demikian, dana-dana tersebut bisa masuk ke Indonesia karena potensi Indonesia untuk meningkatkan investasi dan angka pertumbuhan ekonomi juga sangat besar.

Namun, ia meminta agar arus dana yang masuk dari negara-negara maju tersebut dapat pula disalurkan ke sektor riil di Indonesia. Arus dana yang masuk itu jangan hanya terserap di instrumen obligasi karena dapat menimbulkan risiko baru.

"Penyerapan arus dana yang masuk itu jangan hanya di instrumen SBI, SUN dan saham karena bisa menimbulkan risiko baru, karenanya harus juga terserap di sektor riil," katanya.

Suku Bunga Indonesia 2012 Stabil

Suku Bunga Indonesia 2012 Stabil

Tim Riset Bank DBS memperkirakan tingkat suku bunga di Indonesia akan stabil selama 2012 antara lain karena tren tingkat inflasi yang rendah.
Siaran pers Bank DBS Indonesia yang diterima di Jakarta, Rabu [14/12], menyebutkan, inflasi non-inti pada November 2011 mencapai 4,15 persen dibanding periode yang sama 2010 dan dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan akan menunjukkan tren penurunan.
Pada 2012, dengan memperhitungkan adanya kenaikan tarif listrik sebesar 10 persen, tingkat inflasi seharusnya masih terkendali mengingat lambatnya pertumbuhan ekonomi global sehingga inflasi akan lebih dipengaruhi oleh harga komoditas.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap harga masih tergolong rendah sehingga bank sentral memiliki ruang yang lebih besar untuk memangkas suku bunga. Apalagi, Indonesia masih memiliki kebijakan suku bunga positif sekitar dua persen.
Kekhawatiran akan tingkat pertumbuhan ekonomi seharusnya akan lebih didominasi oleh dampak krisis utang Eropa yang berkepanjangan. Sebagai konsekuensinya, ekspor diprediksi akan menurun sehingga dibutuhkan upaya yang kuat untuk memastikan pertumbuhan kredit tetap solid (di atas 20 persen) di 2012 untuk membantu mendongkrak permintaan domestik.
Terkait dengan pertumbuhan ekonomi ini, DBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 akan mencapai sekitar 6,1 persen.
Menurut Tim Riset Bank DBS, suku bunga yang lebih rendah akan memberikan keuntungan dalam jangka panjang, yaitu menekan spekulasi arus modal.
Tingkat suku bunga yang relatif rendah dalam beberapa waktu ke depan akan meminimalkan selisih imbal hasil di luar negeri dengan dalam negeri sehingga menekan aksi spekulasi dan mendorong moddal yang ditempatkan lebih stabil.
Selain itu, pertumbuhan kredit dengan denominasi mata uang asing dalam sembilan bulan terakhir 2011 (24,3 persen) telah melampaui kredit berdenominasi rupiah (16,5 persen).
Dengan rasio penyaluran kredit (Loan to Deposit Ratio/LDR) mata uang asing yang berada di level 94 persen, pertumbuhan kredit ke depan akan terlimitasi tanpa adanya ekspansi ke pembiayaan korporasi. Sebagai perbandingan, LDR rupiah relatif ada di level 80 persen.
Lemahnya sentimen terhadap situasi ekonomi telah mengakibatkan arus keluar portofolio dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran akan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut juga semakin memperburuk situasi. Kekhawatiran tersebut adalah wajar, namun Tim Riset DBS meyakini bahwa cadangan devisa negara sebesar 114 miliar dolar AS (per akhir Oktober 2011) cukup kuat untuk dapat meredam arus keluar yang mungkin terjadi.
Selain itu, ada pula kekhawatiran bahwa melemahnya rupiah akan memicu inflasi. Dengan latar belakang demikian, kemungkinan penurunan tingkat suku bunga akan lebih terbatas.
Mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, DBS memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin di kuartal pertama 2012, dan kemudian akan terus stabil di sepanjang tahun 2012.
Obligasi Negara
Tim Riset DBS memperkirakan nilai surat utang negara (obligasi negara) berdenominasi rupiah tetap positif meski Bank Indonesiatidak menurunkan kebijakan suku bunga pada awal Desember 2011.
Walaupun telah terjadi tekanan jual dari entitas asing pada November 2011, namun situasi masih tetap terkendali karena BI dan bank-bank komersial meningkatkan kepemilikan obligasi negara sehingga membatasi tekanan yang lebih besar terhadap suku bunga.
DBS menilai intervensi BI di pasar obligasi untuk menahan larinya investasi ke luar negeri (capital outflow) sejauh ini terbukti efektif dalam mempertahankan kepercayaan inivestor dan mengurangi gejolak pasar.
Menjaga suku bunga di level rendah tidak menjadi masalah selama bank sentral mengijinkan terjadinya penyesuaian besar pada rupiah.
Suku bunga Indonesia yang jauh di bawah level pra-krisis mencerminkan empat hal, yaitu rendahnya suku bunga global, melimpahnya likuiditas domestik, strategi yang fokus pada pertumbuhan permintaan domestik serta dalam jangka pendek pergeseran risiko dari inflasi ke pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu suku bunga yang lebih rendah tidak hanya merefleksikan respon sementara terhadap kondisi pasar dan situasi perekonomian yang sulit.
Jika inflasi tetap bertahan di target kisaran BI yaitu sebesar 3,0-5,0 persen di 2012, kemungkinan besar tingkat suku bunga bank di pasar akan tetap rendah selama 2012.
Pertahanan suku bunga di tingkat yang lebih rendah sangat penting untuk strategi pertumbuhan permintaan domestik dan pengembangan di pasar modal. Hal ini mungkin dicapai jika tingkat suku bunga Amerika tetap rendah dan arus modal masuk (capital inflows) tetap kuat.
PT Bank DBS Indonesia berdiri sejak 1997. Pada 2004 hanya memiliki tiga kantor cabang dan saat ini memiliki 40 kantor cabang dan kantor cabang pembantu di 11 kota utama di Indonesia. DBS juga membuka “Rumah DBS” untuk memperluas jangkauan pasar di Indonesia.


krisis global 2012


Krisis global di 2012 akan sangat memberikan dampak berupa tekanan terhadap pertumbuhan industri manufaktur.

"Salah satu sektor yang akan mengalami tekanan akibat krisi global di 2012 adalah sektor manufaktur. Di mana demand dari Eropa, AS dan Jepang akan turun," kata Lead Economist bagi Bank Dunia di Indonesia, Shubham Chaudhuri di Jakarta, Rabu (14/12).

Lebih lanjut Subham mengatakan, ke depan perlu langkah-langkah untuk meningkatkan akses terhadap pendanaan, infrastruktur dan peraturan tenaga kerja. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan sektor manufaktur dan sektor-sektor jasa terkait.

Di tempat yang sama Senior Economist Bank Dunia, Sjamsu Rahardja menambahkan, tahun depan industri manufakur masih bisa tumbuh 7%.

Menurutnya, penurunan pertumbhan ekonomi 1% dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 0,5-0,8%. "Kita harus menjaga recovery sektor manufaktur dengan meningkatkan ketahanan dan daya saingnya. Caranya dengan mengadress kendala-kendala yang akan dihadapi," jelasnya.

Krisis Eropa Diharapkan Tidak Berimbas ke Indonesia


Krisis Eropa Diharapkan Tidak Berimbas ke Indonesia

Krisis ekonomi yang mengobrak-abrik negara Eropa dan Amerika Serikat (AS) diharapkan tidak mengimbas ke Indonesia.
”Meski Eropa hanya menyumbang 12,5 persen dan AS 13 persen terhadap product domestik bruto (PDB), saya harap krisis global tidak semakin memburuk,” ungkap Menteri Perindustrian (Menperin), MS Hidayat, usai rakor mengenai proyek infrastruktur di kantor Menko Perekonomian, Selasa (13/12).
Karena tahun depan, pihaknya menargetkan pertumbuhan industri 7,1 persen. Untuk mencapai pertumbuhan industri 7,1 persen, ia mengaku sangat mengandalkan industri manufaktur. Misalnya industri baja, makanan dan minuman serta otomotif.
”Kalau tidak ada gangguan dari krisis, saya kira (pertumbuhan industri) tahun depan bisa tercapai 7 persen hingga 7,1 persen,” ucapnya.
Sebaliknya jika ada gangguan negatif dari krisis, ia tidak menutup mata kemungkinan proyeksi pertumbuhan industri sebesar itu akan sedikit terkoreksi. Sekitar 6,5 persen hingga 6,6 persen. ”Itupun sangat tergantung apakah kita bisa tanggulangi dampak krisis tersebut,” ujarnya.
Sebab dengan ada krisis global ini, lanjutnya, ekspor Indonesia barangkali berkurang. Untuk mengantisipasi hal itu perlu dilakukan diversifikasi ekspor. ”Itu kerjaan kita,” kata Hidayat.

Krisis Global Tak Ganggu Perbankan Syariah


BI: Krisis Global Tak Ganggu Perbankan Syariah

Bank Indonesia yakin krisis global akibat krisis utang Eropa dan Amerika Serikat tidak akan berdampak signifikan pada kinerja industri perbankan syariah di Tanah Air. Itu karena fokus kegiatan perbankan syariah pada pembiayaan usaha dalam negeri dan tidak banyak terkait dengan perekonomian internasional.

"Industri perbankan syariah tidak terganggu oleh kondisi perekonomian global," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah dalam seminar Outlook Perbankan Syariah 2012, Rabu, 14 Desember 2012.

Menurut dia, pada 2012 nanti peluang perbankan syariah membiayai sektor ekonomi produktif terbuka lebar, mulai dari proyek skala menengah hingga besar.  Kebijakan yang akan dibuat pun akan diarahkan pada hal tersebut.

Bank Indonesia mengharapkan kualitas pelayanan bank-bank syariah saat ini dapat setara dengan kualitas bank induknya.

Menurut Halim, hal tersebut dapat dicapai dengan memberdayakan bank induk dalam mengembangkan infrastruktur perbankan, seperti teknologi informasi dan peningkatan kualitas manajemen risiko.

Faktor fundamental ekonomi Indonesia yang diperkirakan masih positif diharapkan dapat memberikan sentimen positif ke bursa saham pada 2012.


Faktor fundamental ekonomi Indonesia yang diperkirakan masih positif diharapkan dapat memberikan sentimen positif ke bursa saham pada 2012.

"Penurunan suku bunga acuan, likuiditas perbankan masih banyak dan Indonesia dilihat masih jadi pilihan investor,apalagi kalau Indonesia mendapatkan investment grade pada kuartal kedua atau ketiga tahun depan dapat memberikan sentimen positif ke bursa saham," ujar Direktur Utama PT Buana Capital Benny Setiabrata, saat ditemui wartawan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/12).

Hal senada dikatakan Ekonom PT Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih. Lana menuturkan, makro ekonomi masih baik pada tahun depan di tengah krisis Eropa. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar 6,5% pada 2012 didukung konsumsi domestik dan infrastruktur dapat direalisasikan sehingga itu dapat memberi sentimen positif untuk makro ekonomi Indonesia termasuk bursa saham."Kekuatan ekonomi domestik ini diharapkan jadi pendorong saham sehingga potensi pasar modal Indonesia masih bagus," tambah Lana.

Lana mengaku, memang akan ada momentum perlambatan pada kuartal pertama 2012. Investor masih akan mengambil posisi wait and see untuk melihat perkembangan penyelesaian krisis utang Eropa dalam jangka pendek. Tetapi kondisi bursa saham Indonesia masih akan stabil ke depan. Lana memprediksikan, IHSG akan berada di level 4.275 pada 2012. "Kemungkinan Asia akan mendapatkan limpahan dana asing,apalagi mengingat lembaga rating seperti S&P dan Fitch Rating akan melakukan down grade terhadap Amerika Serikat dan Eropa," ujar Lana.

Kepala Riset PT Henan Putihrai Securities Felix Sindhunata menuturkan, emerging market masih tetap diminati dana asing di tengah ekonomi Eropa yang memasuki fase resesi di semester I tahun depan. Selain itu, penurunan BI-Rate pada 2012 cenderung terbatas, tekanan inflasi diperkirakan akan semakin meningkat terutama dipicu dari kenaikan harga komoditas. Penurunan BI-Rate terbatas tersebut akan membuat pergerakan Rupiah sangat tergantung pada sentimen market dan pergerakan dolar Amerika Serikat. "Dengan skenario pertumbuhan, IHSG untuk 2012 kami perkirakan akan bergerak di kisaran 4.230-4.550 merefleksikan mean dan median PE historis di 16,4 kali dan 17,7 kali," ujar Felix.

Untuk sektor saham yang menjadi pilihan pada 2012, dalam riset PT Henan Putihrai Securities, sektor saham pertambangan, perbankan, otomotif, consumer, dan perkebunan masih menarik pada 2012.

hambatan ekonomi indonesia 2012


2012, Ekonomi Indonesia Akan Alami Banyak Hambatan


JAKARTA (Suara Karya): Pengamat ekonomi, Ifan Kurniawan, menilai ekonomi Indonesia yang terus tumbuh dari tahun ke tahun ke depan akan mengalami hambatan karena krisis utang di Eropa dan Amerika Serikat yang masih tak menentu.

Selain itu pemerintah Indonesia juga mengalami tekanan berat dari subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang kian meningkat akibat terus naiknya harga minyak mentah dunia yang saat ini mencapai 110 dolar AS, kata analis PT First Asia Capital itu di Jakarta, Rabu.

Menurut Ifan, kenaikan harga minyak mentah dunia terjadi karena adanya ancaman dari Iran yang akan menutup Selat Hormuz, apabila negara-negara Barat masih mempersoalkan masalah nuklirnya.

Ancaman Iran itu mengakibatkan harga minyak mentah dunia terus menguat hingga mencapai 110 dolar AS per barel. Ancaman Iran itu, lanjut dia, apabila dilakukan akan membuat harga minyak mentah dunia akan dapat mencapai 130 dolar AS per barel dan akan menekan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan akan dapat mencapai 6,5 persen. Ia juga mengatakan, persediaan pangan dan kebutuhah pokok lainnya makin berkurang dan kemungkinan harganya melonjak karena cuaca alam yang tak menentu.

Gangguan alam mengakibatkan panen beras maupun gandum berkurang, sehingga harganya bergerak yang juga akan mengimbas harga kebutuhan pokok lainnya. Banjir di Thailand mengakibatkan panen beras di negara Gajah menipis sehingga pasokannya ke negara konsumen berkurang.

Kondisi ini, menurut dia, akan mendorong laju inflasi di dalam negeri yang ditargetkan empat plus minus satu (4 plus +-1) sulit diwujudkan, bahkan cenderung akan mengalami kenaikan. Jadi rencana Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan dan Giro Wajib Minimum (GWM) pada 2012 kemungkinan akan mengalami kesulitan.

Ifan Kurniawan mengatakan, 2012 merupakan tahun yang lebih sulit dibanding 2011 karena pasarnya kurang menguntungkan. Meski Indonesia diperkirakan pada kuartal pertama 2012 akan mendapat perbaikan investment grade yang mendorong pelaku asing kembali memasuki pasar domestik, namun mereka juga kemungkinan akan hati-hati menempatkan dananya.

ekonomi indonesia tumbuh 6,4 persen

Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,4 Persen
Bank Dunia tetap memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 6,4 persen sepanjang tahun ini. Beda tipis dengan target pemerintah dalam APBN-Perubahan 2011 sebesar 6,5 persen untuk tahun ini.
"Perkiraan jangka pendek untuk ekonomi global masih berkisar pada pertumbuhan yang lebih lemah pada negara-negara berpenghasilan tinggi, moderasi pada harga-harga komoditas dan berlanjutnya gejolak pada pasar finansial," ujar Lead Economist Bank Dunia di Indonesia, Shubham Chaudhuri, dalam acara Indonesia Economic Quarterly, di Jakarta, Rabu ( 14/12/2011 ).
Indonesia, kata dia, sebenarnya berada dalam posisi yang lebih baik dalam menghadapi sejumlah goncangan tersebut. Namun, tetap saja ada kemungkinan skenario-skenario yang lebih buruk bisa terjadi khususnya jika terjadi pembekuan pada pasar finansial internasional yang pada akhirnya berdampak pada negara-negara berkembang.
Dengan kemungkinan itu, sekalipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal tiga kemarin berada pada angka 6,5 persen, Bank Dunia tetap pada proyeksi yang telah dikeluarkan pada bulan Oktober lalu. Bahkan lembaga ini pun menurunkan perkiraan pertumbuhan Indonesia menjadi hanya 6,2 persen dari proyeksi Oktober sebesar 6,3 persen untuk tahun 2012 . Angka ini jauh dari target APBN 2012 sebesar 6,7 persen.
Angka itu diperkirakan Bank Dunia dengan menimbang pertumbuhan ekonomi terbaru yang dicatat mitra dagang utama Indonesia sekaligus melihat belum selesainya krisis utang AS dan Eropa. "Indonesia perlu meningkatkan kesiagaan untuk menghadapi skenario-skenario tersebut," tegas Shubham.

ekonomi indonesia


Ekonomi Indonesia

Indonesia memiliki ekonomi berbasis-pasar di mana pemerintah memainkan peranan penting. Pemerintah memiliki lebih dari 164 BUMN dan menetapkan harga beberapa barang pokok, termasuk bahan bakar, beras, dan listrik. Setelah krisis finansial Asia yang dimulai pada pertengahan 1997, pemerintah menjaga banyak porsi dari aset sektor swasta melalui pengambilalihan pinjaman bank tak berjalan dan asset perusahaan melalui proses penstrukturan hutang.

Latar belakang

Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950)

Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan oleh :
  • Inflasi yang sangat tinggi
Disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada saat itu diperkirakan mata uang Jepang yang beredar di masyarakat sebesar 4 milyar. Dari jumlah tersebut, yang beredar di Jawa saja, diperkirakan sebesar 1,6 milyar. Jumlah itu kemudian bertambah ketika pasukan Sekutu berhasil menduduki beberapa kota besar di Indonesia dan menguasai bank-bank.
Dari bank-bank itu Sekutu mengedarkan uang cadangan sebesar 2,3 milyar untuk keperluan operasi mereka. Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat inflasi ini adalah petani. Hal itu disebabkan pada zaman pendudukan Jepang petani adalah produsen yang paling banyak menyimpan mata-uang Jepang. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga.
Pada saat kesulitan ekonomi menghimpit bangsa Indonesia, tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI yang baru, Letnan Jenderal Sir Montagu Stopford mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang diduduki Sekutu. Uang NICA ini dimaksudkan sebagai pengganti uang Jepang yang nilainya sudah sangat turun. Pemerintah melalui Perdana Menteri Syahrir memproses tindakan tersebut. Karena hal itu berarti pihak Sekutu telah melanggar persetujuan yang telah disepakati, yakni selama belum ada penyelesaian politik mengenai status Indonesia, tidak akan ada mata uang baru.
Oleh karena itulah pada bulan Oktober 1946 Pemerintah RI, juga melakukan hal yang sama yaitu mengeluarkan uang kertas baru yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai pengganti uang Jepang. Untuk melaksanakan koordinasi dalam pengurusan bidang ekonomi dan keuangan, pemerintah membentuk Bank Negara Indonesia pada tanggal 1 November 1946. Bank Negara ini semula adalah Yayasan Pusat Bank yang didirikan pada bulan Juli 1946 dan dipimpin oleh Margono Djojohadikusumo. Bank negara ini bertugas mengatur nilai tukar ORI dengan valuta asing.
  • Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negri RI.
Blokade laut ini dimulai pada bulan November 1945 ini, menutup pintu keluar-masuk perdagangan RI. Adapun alasan pemerintah Belanda melakukan blokade ini adalah:
  1. Untuk mencegah dimasukkannya senjata dan peralatan militer ke Indonesia;
  2. Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing lainnya;
  3. Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orang bukan Indonesia.
  • Kas negara kosong.
  • Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.
  • Tanah pertanian rusak
  1. Tenaga kerja dijadikan romusha
  2. Tanah pertanian ditanami tanaman keras
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain :
  • Program Pinjaman Nasional dilaksanakan oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada bulan Juli 1946.
  • Upaya menembus blokade dengan diplomasi beras ke India seberat 500000 ton, mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika, dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan Malaysia.
  • Konferensi ekonomi Februari 1946 dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
  • Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
  • Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang (Rera) 1948 yaitu mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke bidang-bidang produktif.
  • Pada tanggal 19 Januari 1947 dibentuk Planing Board (badan perancang ekonomi yang bertugas untuk membuat rencana pembangunan ekonomi jangka waktu 2 sampai tiga tahun). Kemudian IJ Kasimo sebagai menteri Persediaan Makanan Rakyat menghasilkan rencana produksi lima tahun yang dikenal dengan nama Kasimo Plan, yang isinya
  • Memperbanyak kebun bibit dan padi unggul
  • Pencegahan penyembelihan hewan pertanian
  • Penanaman kembali tanah kosong
  • Pemindahan penduduk (transmigrasi) 20 juta jiwa dari Jawa ke Sumatera dalam jangka waktu 1-15 tahun.

Demokrasi Terpimpin

Kehidupan ekonomi Indonesia hingga tahun 1959 belum berhasil dengan baik dan tantangan yang menghadangnya cukup berat. Upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi adalah sebagai berikut.

Gunting Syafruddin

Kebijakan ini adalah Pemotongan nilai uang (sanering). Caranya memotong semua uang yang bernilai Rp. 2,50 ke atas hingga nilainya tinggal setengahnya. Kebijakan ini dilakukan oleh Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara pada masa pemerintahan RIS. Tindakan ini dilakukan pada tanggal 20 Maret 1950 berdasarkan SK Menteri Nomor 1 PU tanggal 19 Maret 1950. Tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar Rp. 5,1 Miliar.
Dampaknya rakyat kecil tidak dirugikan karena yang memiliki uang Rp. 2,50 ke atas hanya orang-orang kelas menengah dan kelas atas. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dan pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat pinjaman sebesar Rp. 200 juta.

Sistem Ekonomi Gerakan Benteng

Sistem ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah yang dilakukan pada masa Kabinet Natsir yang direncanakan oleh Sumitro Djojohadikusumo (menteri perdagangan). Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah:
  • Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
  • Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
  • Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit.
  • Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Tetapi tujuan program ini tidak dapat tercapai dengan baik meskipun beban keuangan pemerintah semakin besar. Kegagalan program ini disebabkan karena :
  • Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal.
  • Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung konsumtif.
  • Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah.
  • Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya.
  • Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara hidup mewah.
  • Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka peroleh.
Dampaknya adalah program ini menjadi salah satu sumber defisit keuangan. Beban defisit anggaran Belanja pada 1952 sebanyak 3 Miliar rupiah ditambah sisa defisit anggaran tahun sebelumnya sebesar 1,7 miliar rupiah. Sehingga menteri keuangan Jusuf Wibisono memberikan bantuan kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional dari golongan ekonomi lemah sehingga masih terdapat para pengusaha pribumi sebagai produsen yang dapat menghemat devisa dengan mengurangi volume impor.

Nasionalisasi De Javasche Bank

Seiring meningkatnya rasa nasionalisme maka pada akhir tahun 1951 pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Awalnya terdapat peraturan bahwa mengenai pemberian kredit harus dikonsultasikan pada pemerintah Belanda. Hal ini menghambat pemerintah dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan moneter. Tujuannya adalah untuk menaikkan pendapatan dan menurunkan biaya ekspor, serta melakukan penghematan secara drastis. Perubahan mengenai nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral dan bank sirkulasi diumumkan pada tanggal 15 Desember 1951 berdasarkan Undang-undang No. 24 tahun 1951.

Sistem Ekonomi Ali-Baba

Sistem ekonomi Ali-Baba diprakarsai oleh Iskaq Tjokrohadisurjo (menteri perekonomian kabinet Ali I). Tujuan dari program ini adalah:
  • Untuk memajukan pengusaha pribumi.
  • Agar para pengusaha pribumi bekerjasama memajukan ekonomi nasional.
  • Pertumbuhan dan perkembangan pengusaha swasta nasional pribumi dalam rangka merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
  • Memajukan ekonomi Indonesia perlu adanya kerjasama antara pengusaha pribumi dan non pribumi.
Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi sedangkan Baba digambarkan sebagai pengusaha non pribumi khususnya Cina. Dengan pelaksanaan kebijakan Ali-Baba, pengusaha pribumi diwajibkan untuk memberikan latihan-latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga bangsa Indonesia agar dapat menduduki jabatan-jabatan staf. Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Pemerintah memberikan perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang ada. Program ini tidak dapat berjalan dengan baik sebab:
  • Pengusaha pribumi kurang pengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. Sedangkan pengusaha non pribumi lebih berpengalaman dalam memperoleh bantuan kredit.
  • Indonesia menerapkan sistem Liberal sehingga lebih mengutamakan persaingan bebas.
  • Pengusaha pribumi belum sanggup bersaing dalam pasar bebas.

Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)

Pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap dikirim delegasi ke Jenewa untuk merundingkan masalah finansial-ekonomi antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Misi ini dipimpin oleh Anak Agung Gde Agung. Pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana persetujuan Finek, yang berisi:
  • Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan.
  • Hubungan Finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral.
  • Hubungan Finek didasarkan pada Undang-undang Nasional, tidak boleh diikat oleh perjanjian lain antara kedua belah pihak.
Hasilnya pemerintah Belanda tidak mau menandatangani, sehingga Indonesia mengambil langkah secara sepihak. Tanggal 13 Februari 1956 Kabinet Burhanuddin Harahap melakukan pembubaran Uni Indonesia-Belanda secara sepihak. Tujuannya untuk melepaskan diri dari keterikatan ekonomi dengan Belanda. Sehingga, tanggal 3 Mei 1956, akhirnya Presiden Sukarno menandatangani undang-undang pembatalan KMB. Dampaknya adalah banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya, sedangkan pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan Belanda tersebut.

Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT)

Masa kerja kabinet pada masa liberal yang sangat singkat dan program yang silih berganti menimbulkan ketidakstabilan politik dan ekonomi yang menyebabkan terjadinya kemerosotan ekonomi, inflasi, dan lambatnya pelaksanaan pembangunan.
Program yang dilaksanakan umumnya merupakan program jangka pendek, tetapi pada masa kabinet Ali Sastroamijoyo II, pemerintahan membentuk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang disebut Biro Perancang Negara. Tugas biro ini merancang pembangunan jangka panjang. Ir. Juanda diangkat sebagai menteri perancang nasional. Biro ini berhasil menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) yang rencananya akan dilaksanakan antara tahun 1956-1961 dan disetujui DPR pada tanggal 11 November 1958. Tahun 1957 sasaran dan prioritas RPLT diubah melalui Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap). Pembiayaan RPLT diperkirakan 12,5 miliar rupiah.
RPLT tidak dapat berjalan dengan baik disebabkan karena :
  • Adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan ekspor dan pendapatan negara merosot.
  • Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolak ekonomi.
  • Adanya ketegangan antara pusat dan daerah sehingga banyak daerah yang melaksanakan kebijakan ekonominya masing-masing.

Musyawarah Nasional Pembangunan

Masa kabinet Juanda terjadi ketegangan hubungan antara pusat dan daerah. Masalah tersebut untuk sementara waktu dapat teratasi dengan Musayawaraah Nasional Pembangunan (Munap). Tujuan diadakan Munap adalah untuk mengubah rencana pembangunan agar dapat dihasilkan rencana pembangunan yang menyeluruh untuk jangka panjang. Tetapi tetap saja rencana pembangunan tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena:
  • Adanya kesulitan dalam menentukan skala prioritas.
  • Terjadi ketegangan politik yang tak dapat diredakan.
  • Timbul pemberontakan PRRI/Permesta.
Hal ini membutuhkan biaya besar untuk menumpas pemberontakan PRRI/ Permesta sehingga meningkatkan defisit Indonesia. Memuncaknya ketegangan politik Indonesia- Belanda menyangkut masalah Irian Barat mencapai konfrontasi bersenjata.

Orde Baru

Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita $70 menjadi lebih dari $1.000 pada 1996. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5%-10%, rupiah stabil dan dapat diterka, dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. Banyak dari anggaran pembangunan dibiayai melalui bantuan asing.
Pada pertengahan 1980-an pemerintah mulai menghilangkan hambatan kepada aktivitas ekonomi. Langkah ini ditujukan utamanya pada sektor eksternal dan finansial dan dirancang untuk meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di bidang ekspor non-minyak. GDP nyata tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7% dari 1987-1997, dan banyak analisis mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang.
Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari 1987-1997 menutupi beberapa kelemahan struktural dalam ekonomi Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada cara efektif untuk menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas kebangkrutan. Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman berdasarkan-"collateral" menyebabkan perluasan dan pelanggaran peraturan, termasuk batas peminjaman. Hambatan non-tarif, penyewaan oleh perusahaan milik negara, subsidi domestik, hambatan ke perdagangan domestik, dan hambatan ekspor seluruhnya menciptakan gangguan ekonomi.
Krisis finansial Asia Tenggara yang melanda Indonesia pada akhir 1997 dengan cepat berubah menjadi sebuah krisis ekonomi dan politik. Respon pertama Indonesia terhadap masalah ini adalah menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan naiknya inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah, dan memperketat kebijakan fiskalnya. Pada Oktober 1997, Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) mencapai kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada penstabilan ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai merusak, antara lain Program Permobilan Nasional dan monopoli, yang melibatkan anggota keluarga Presiden Soeharto. Rupiah masih belum stabil dalam jangka waktu yang cukup lama, hingga pada akhirnya Presiden Suharto terpaksa mengundurkan diri pada Mei 1998.

Pasca Suharto

Di bulan Agustus 1998, Indonesia dan IMF menyetujui program pinjaman dana di bawah Presiden B.J Habibie. Presiden Gus Dur yang terpilih sebagai presiden pada Oktober 1999 kemudian memperpanjang program tersebut.
Pada 2010 Ekonomi Indonesia sangat stabil dan tumbuh pesat. PDB bisa dipastikan melebihin Rp 6300 Trilyun meningkat lebih dari 100 kali lipat dibanding PDB tahun 1980. Setelah India dan China, Indonesia adalah negara dengan ekonomi yang tumbuh paling cepat diantara 20 negara anggota Industri ekonomi terbesar didunia G20.
Ini adalah tabel PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia dari tahun ke tahunoleh IMF dalam juta rupiah.
Tahun
PDB

1980
60,143.191

1985
112,969.792

1990
233,013.290

1995
502,249.558

2000
1,389,769.700

2005
2,678,664.096

2010
6,422,918.230

Kajian Pengeluaran Publik

Sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 1990-an, yang memiliki andil atas jatuhnya rezim Suharto pada bulan Mei 1998, keuangan publik Indonesia telah mengalami transformasi besar. Krisis keuangan tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi yang sangat besar dan penurunan yang sejalan dalam pengeluaran publik. Tidak mengherankan utang dan subsidi meningkat secara drastis, sementara belanja pembangunan dikurangi secara tajam.
Saat ini, satu dekade kemudian, Indonesia telah keluar dari krisis dan berada dalam situasi dimana sekali lagi negara ini mempunyai sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perubahan ini terjadi karena kebijakan makroekonomi yang berhati-hati, dan yang paling penting defisit anggaran yang sangat rendah. Juga cara pemerintah membelanjakan dana telah mengalami transformasi melalui "perubahan besar" desentralisasi tahun 2001 yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah beralih ke pemerintah daerah pada tahun 2006. Hal lain yang sama pentingnya, pada tahun 2005, harga minyak internasional yang terus meningkat menyebabkan subsidi minyak domestik Indonesia tidak bisa dikontrol, mengancam stabilitas makroekonomi yang telah susah payah dicapai. Walaupun terdapat risiko politik bahwa kenaikan harga minyak yang tinggi akan mendorong tingkat inflasi menjadi lebih besar, pemerintah mengambil keputusan yang berani untuk memotong subsidi minyak.
Keputusan tersebut memberikan US$10 miliar tambahan untuk pengeluaran bagi program pembangunan. Sementara itu, pada tahun 2006 tambahan US$5 miliar telah tersedia berkat kombinasi dari peningkatan pendapatan yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil secara keseluruhan dan penurunan pembayaran utang, sisa dari krisis ekonomi. Ini berarti pada tahun 2006 pemerintah mempunyai US$15 miliar ekstra untuk dibelanjakan pada program pembangunan. Negara ini belum mengalami 'ruang fiskal' yang demikian besar sejak peningkatan pendapatan yang dialami ketika terjadi lonjakan minyak pada pertengahan tahun 1970an. Akan tetapi, perbedaan yang utama adalah peningkatan pendapatan yang besar dari minyak tahun 1970-an semata-mata hanya merupakan keberuntungan keuangan yang tak terduga. Sebaliknya, ruang fiskal saat ini tercapai sebagai hasil langsung dari keputusan kebijakan pemerintah yang hati hati dan tepat.
Walaupun demikian, sementara Indonesia telah mendapatkan kemajuan yang luar biasa dalam menyediakan sumber keuangan dalam memenuhi kebutuhan pembangunan, dan situasi ini dipersiapkan untuk terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang, subsidi tetap merupakan beban besar pada anggaran pemerintah. Walaupun terdapat pengurangan subsidi pada tahun 2005, total subsidi masih sekitar US$ 10 miliar  dari belanja pemerintah tahun 2006 atau sebesar 15 persen dari anggaran total.
Berkat keputusan pemerintahan Habibie (Mei 1998 - Agustus 2001) untuk mendesentralisasikan wewenang pada pemerintah daerah pada tahun 2001, bagian besar dari belanja pemerintah yang meningkat disalurkan melalui pemerintah daerah. Hasilnya pemerintah propinsi dan kabupaten di Indonesia sekarang membelanjakan 37 persen dari total dana publik, yang mencerminkan tingkat desentralisasi fiskal yang bahkan lebih tinggi daripada rata-rata OECD.
Dengan tingkat desentralisasi di Indonesia saat ini dan ruang fiskal yang kini tersedia, pemerintah Indonesia mempunyai kesempatan unik untuk memperbaiki pelayanan publiknya yang terabaikan. Jika dikelola dengan hati-hati, hal tersebut memungkinkan daerah-daerah tertinggal di bagian timur Indonesia untuk mengejar daerah-daerah lain di Indonesia yang lebih maju dalam hal indikator sosial. Hal ini juga memungkinkan masyarakat Indonesia untuk fokus ke generasi berikutnya dalam melakukan perubahan, seperti meningkatkan kualitas layanan publik dan penyediaan infrastruktur seperti yang ditargetkan. Karena itu, alokasi dana publik yang tepat dan pengelolaan yang hati-hati dari dana tersebut pada saat mereka dialokasikan telah menjadi isu utama untuk belanja publik di Indonesia kedepannya.
Sebagai contoh, sementara anggaran pendidikan telah mencapai 17.2 persen  dari total belanja publik- mendapatkan alokasi tertinggi dibandingkan sektor lain dan mengambil sekitar 3.9 persen dari PDB pada tahun 2006, dibandingkan dengan hanya 2.0 persen dari PDB pada tahun 2001 - sebaliknya total belanja kesehatan publik masih dibawah 1.0 persen dari PDB. Sementara itu, investasi infrastruktur publik masih belum sepenuhnya pulih dari titik terendah pasca krisis dan masih pada tingkat 3.4 persen dari PDB. Satu bidang lain yang menjadi perhatian saat ini adalah tingkat pengeluaran untuk administrasi yang luar biasa tinggi. Mencapai sebesar 15 persen pada tahun 2006, menunjukkan suatu penghamburan yang signifikan atas sumber daya publik.

Minggu, 04 Desember 2011

tugas softskill minggu 9


TUGAS MINGGU 9 SOFTSKILL :

1.MANAJEMEN KEUANGAN ADALAH : …………………
   SEBUTKAN KEPUTUSAN MANAJER KEUANGAN ITU  APA SAJA
   SERTA KEGIATAN SEORANG MANAJER KEUANGAN BERKAITAN DENGAN 
   ERAT DENGAN …………..
2.APA YG DIMAKSUD  DENGAN  KAPITAL BUDGETING DAN SEBUTKAN  
   METODE  PERHITUNGANNYA
3.BERIKAN ALASAN MENGAPA MANAJER  KEUANGAN MENCARI  DANA


Jawab :

1) manejemen keuangan =  segala kegiatan manejemen  yg berkaitan dgn mencari dana dgn biaya seefien mungkin & aktifitas menggunakan dana seefektif mungkin.
    manager keuangan berkaitan erat dgn             - perencanaan               - pengkoordinasian
                                                                        - pengorganisasian         -pengendalian keuangan
    keputusan manajer keuangan : -keputusan pembelanjaan(financing)
                                                 -keputusan pembiayaan (investasi)
                                                 -kebijakan deviden (deviden policy)


2) capital budgeting= pengunaan dana/modal yg waktu kembalinya lebih dari satu tahun
   Metode perhitungannya :  - metode average return of return
                                         -metode waktu pengembalian investasi
                                         -metode net present value
                                         -metode profitability index
                                         -metode internal rate of return
     
3)alasan manejer mencari dana :
  -utk membiayai kegiataan perusahaan yaitu invetasi
  -membayar deviden kepada pemegang saham