Rabu, 14 Desember 2011

Suku Bunga Indonesia 2012 Stabil

Suku Bunga Indonesia 2012 Stabil

Tim Riset Bank DBS memperkirakan tingkat suku bunga di Indonesia akan stabil selama 2012 antara lain karena tren tingkat inflasi yang rendah.
Siaran pers Bank DBS Indonesia yang diterima di Jakarta, Rabu [14/12], menyebutkan, inflasi non-inti pada November 2011 mencapai 4,15 persen dibanding periode yang sama 2010 dan dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan akan menunjukkan tren penurunan.
Pada 2012, dengan memperhitungkan adanya kenaikan tarif listrik sebesar 10 persen, tingkat inflasi seharusnya masih terkendali mengingat lambatnya pertumbuhan ekonomi global sehingga inflasi akan lebih dipengaruhi oleh harga komoditas.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap harga masih tergolong rendah sehingga bank sentral memiliki ruang yang lebih besar untuk memangkas suku bunga. Apalagi, Indonesia masih memiliki kebijakan suku bunga positif sekitar dua persen.
Kekhawatiran akan tingkat pertumbuhan ekonomi seharusnya akan lebih didominasi oleh dampak krisis utang Eropa yang berkepanjangan. Sebagai konsekuensinya, ekspor diprediksi akan menurun sehingga dibutuhkan upaya yang kuat untuk memastikan pertumbuhan kredit tetap solid (di atas 20 persen) di 2012 untuk membantu mendongkrak permintaan domestik.
Terkait dengan pertumbuhan ekonomi ini, DBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 akan mencapai sekitar 6,1 persen.
Menurut Tim Riset Bank DBS, suku bunga yang lebih rendah akan memberikan keuntungan dalam jangka panjang, yaitu menekan spekulasi arus modal.
Tingkat suku bunga yang relatif rendah dalam beberapa waktu ke depan akan meminimalkan selisih imbal hasil di luar negeri dengan dalam negeri sehingga menekan aksi spekulasi dan mendorong moddal yang ditempatkan lebih stabil.
Selain itu, pertumbuhan kredit dengan denominasi mata uang asing dalam sembilan bulan terakhir 2011 (24,3 persen) telah melampaui kredit berdenominasi rupiah (16,5 persen).
Dengan rasio penyaluran kredit (Loan to Deposit Ratio/LDR) mata uang asing yang berada di level 94 persen, pertumbuhan kredit ke depan akan terlimitasi tanpa adanya ekspansi ke pembiayaan korporasi. Sebagai perbandingan, LDR rupiah relatif ada di level 80 persen.
Lemahnya sentimen terhadap situasi ekonomi telah mengakibatkan arus keluar portofolio dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran akan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut juga semakin memperburuk situasi. Kekhawatiran tersebut adalah wajar, namun Tim Riset DBS meyakini bahwa cadangan devisa negara sebesar 114 miliar dolar AS (per akhir Oktober 2011) cukup kuat untuk dapat meredam arus keluar yang mungkin terjadi.
Selain itu, ada pula kekhawatiran bahwa melemahnya rupiah akan memicu inflasi. Dengan latar belakang demikian, kemungkinan penurunan tingkat suku bunga akan lebih terbatas.
Mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, DBS memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin di kuartal pertama 2012, dan kemudian akan terus stabil di sepanjang tahun 2012.
Obligasi Negara
Tim Riset DBS memperkirakan nilai surat utang negara (obligasi negara) berdenominasi rupiah tetap positif meski Bank Indonesiatidak menurunkan kebijakan suku bunga pada awal Desember 2011.
Walaupun telah terjadi tekanan jual dari entitas asing pada November 2011, namun situasi masih tetap terkendali karena BI dan bank-bank komersial meningkatkan kepemilikan obligasi negara sehingga membatasi tekanan yang lebih besar terhadap suku bunga.
DBS menilai intervensi BI di pasar obligasi untuk menahan larinya investasi ke luar negeri (capital outflow) sejauh ini terbukti efektif dalam mempertahankan kepercayaan inivestor dan mengurangi gejolak pasar.
Menjaga suku bunga di level rendah tidak menjadi masalah selama bank sentral mengijinkan terjadinya penyesuaian besar pada rupiah.
Suku bunga Indonesia yang jauh di bawah level pra-krisis mencerminkan empat hal, yaitu rendahnya suku bunga global, melimpahnya likuiditas domestik, strategi yang fokus pada pertumbuhan permintaan domestik serta dalam jangka pendek pergeseran risiko dari inflasi ke pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu suku bunga yang lebih rendah tidak hanya merefleksikan respon sementara terhadap kondisi pasar dan situasi perekonomian yang sulit.
Jika inflasi tetap bertahan di target kisaran BI yaitu sebesar 3,0-5,0 persen di 2012, kemungkinan besar tingkat suku bunga bank di pasar akan tetap rendah selama 2012.
Pertahanan suku bunga di tingkat yang lebih rendah sangat penting untuk strategi pertumbuhan permintaan domestik dan pengembangan di pasar modal. Hal ini mungkin dicapai jika tingkat suku bunga Amerika tetap rendah dan arus modal masuk (capital inflows) tetap kuat.
PT Bank DBS Indonesia berdiri sejak 1997. Pada 2004 hanya memiliki tiga kantor cabang dan saat ini memiliki 40 kantor cabang dan kantor cabang pembantu di 11 kota utama di Indonesia. DBS juga membuka “Rumah DBS” untuk memperluas jangkauan pasar di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar